Friday, February 3, 2012

Sapaan sejarah hari ini


Alangkah senangnya bisa menjadi saksi sebuah sejarah besar. Dan akan terasa lebih menarik juga unik, jika sejarah besar yang kita saksikan itu bukan sejarah bangsa sendiri, tapi sejarah negara dan bangsa lain. KAlo tidak bisa jadi saksi sejarah dinegara sendiri, jadi saksi sejarah di negeri lain pun tak masalah(begitu petuah aneh itu kira-kira) Petuah yang kedengarannya agak di paksakan memang. TApi kalo takdir memang sudah mengguratkan demikain, tentu tak ada pilihan lain selain menikmati itu semua.. Itu pula lah yang kami rasakan disini. Sekumpulan anak muda tanggung yang tak pernah berniat melihat revolusi itu bergulir. NAmun, fase sejarah ternyata mempersilahkan kami  menjadi satu di antara sekian banyak saksi hidupnya.

Bukan suatu yang kebetulan tentunya. Saat kita bisa hidup menjadi saksi sebuah sejarah. Kalau kita mau melihat, betapa banyak orang yang sudah mendiami tempat ini, lalu mereka pulang tanpa sempat melihat semuanya langsung di depan mata. Baik itu yang pulang karena sudah habis jatah umurnya di bumi para nabi ini, atau pun mereka yang rela pulang karena di evakuasi(baca; di panggil presiden RI). Tapi, tidak begitu dengan kita. Entah mengapa, kita menjadi yang terpilih untuk menyaksikan pergolakan itu bergulir. Ikut merasakan bagaimana mencekamnya seantero bumi dan langit mesir, sampai-sampai kita pun juga berharap nasib baik mengantarkan kita pulang menuju ibu pertiwi. Namun apa daya, kita tak punya kuasa untuk itu. Penantian nan panjang terhadap pesawat jemputan seakan tak menuai hasil.Dan lagi-lagi kita belum di takdirkan untuk pulang. Tapi, itulah takdir kita.Menjadi saksi terhadap sejarah besar ini. Mesipun kita tak ikut langsung terjun ke lapangan. Tapi doa kita seakan membumi bagi keselamatan semua orang disini, di negeri kinanah ini.

Sekali lagi, ini bukan kebetulan. Betapa banyak negara lain di luar sana yang juga bergolak, tapi kesudahan mereka begitu tragis dan sadis. Seakan tak menyisakan kenangan manis untuk di ceritakan dimasa mendatang. Disini darah juga bertumpahan. NAmun ternyata di luar sana banjir darah lebih deras lagi. Dan untungnya, kita tidak termasuk dalam daftar mereka yang tumbang. Tidak lain supaya kita bisa jadi saksi untuk sebuah tanda perubahan besar di negeri ini.

Perjuangan panjang yang melelahkan itupun akhir nya menemui titik jeda. Gegap gempita mewarnai kawasan tahrir dan juga seluruh jiwa yang menyaksikannya. Revolusi, kata itu seakan kambali melahirkan mesir dari rahim keterkungkungan menuju dunia bebas dari kediktatoran. Dan tentu saja, kita disini juga mendapat imbasnya. Senang bukan kepalang. Meskipun ini bukan negara asli kita, tapi bagaimanapun isy dan tho’miyahnya sudah menjadi bagian darah daging kita.Siraman segar sungai nil pun sudah merambat dalam aliran pembuluh darah kita .

Sekarang, satu tahun telah genap memutar harinya. Mengingatkan kita kembali pada kenangan itu. Mencekam, ketakutan, kekurangan stok makanan (meskipun tidak selebai pemberitaan koran di negeri sendiri), dan kehilangan rasa aman. Semuanya seakan terampas dari kehidupan. Namun kini semua berubah manis menjadi kenangan. Kenangan indah, yang bahkan layak di cerikatan untuk tujuh turunan.
Bukanlah sebuah kesengajaan sejarah bahwa kita bisa hadir pada hari itu. Tapi karena sejarah ingin mengajarkan suatu nilai lebih untuk kita. Bahwa perubahan besar, butuh juhud besar pula untuk mewujudkannya. Tidak hanya dalam sekop perubahan bangsa adan negara, tapi juga termasuk perubahan individu manusia. Kita telah melihat bagaimana sejarah itu bergulir. Lalu memberi kesempatan bagi rakyat mesir untuk mempergunakannya. Sampai akhirnya, sejarah pun memasukkan kisah mereka dalam salah satu halamannya.

Begitu juga halnya sejarah akan mendatangi kita satu persatu. Mengetuk pintu kesadaran kita, lalu menanyakan kesiapan kita untuk menjadi bagian dalam lembarannya. Dan kalau sejarah sudah memberikan ruang untuk rakyat mesir, maka akan ada juga ruang buat yang lainnya. Termasuk juga bagi yang ingin mengukirkan sejarah dirinya. Meskipun tidak akan tahu kapan datangnya, tapi mempersiapkan diri untuk menaymbut kedatangannya  tentu lebih baik.

Kalau rakyat mesir rela berkumpul di tahrir untuk mewujudkan perubahan yang di harapkan, maka kita pun meski mengumpulkan semangat untuk membuat nyata perubahan diri kita. Jika mereka rela begadang malam merancangan gempuran esok hari, maka kita juga melakukannya kala ujian menyapa dan tinggal meneruskannya dikemudian hari. Dan jika mereka kekurangan makanan saat menggeriliyakan revolusi, maka kita pun juga sudah terbiasa tak makan nasi(namun akhirnya di ganti dengan makan isy). Perubahan akan terus dating silih berganti, sebagaimana hari-hari telah mengiurai kisahnya. Benarlah jika kemudian seorang penyair arab mendendangkan : Hiyal ayyamu kama syahadtaha dualu# man sarrohu zamanun sa’athu azmanu
هي اللأيام كما شاهدتها دول # من سره زمن ساءته أزمان
Begitulah kamu lihat hari itu bergulir # Jika kamu bergembira di suatu masa, maka dimasa lain kesedihan akan menyapa.
Jikalau sudah begitu, dengan penuh harap kita memohon, semoga iringan sejarah menyapa kita. Dan dengan sentuhan berkah Yang MAha Kuasa, sejarah pun memasukkan kita dalam kumpulan ceritanya… amin

Tertanda
Syabab Tsauroh walla syabab shuroh?
Rabu, 25 jan ’12. Pukul 09.08 CLT. 

No comments:

Post a Comment