Ibarat
mendirikan sebuah gedung, seperti itu jugalah bangunan keilmuan dibentuk. Ia
tidak hadir dengan sendirinya, tapi memerlukan aneka proses dan tahapan. Maka, ketika bangunan
yang akan dibuat adalah bangunan yang kokoh dan kuat, tentu diperlukan juga
pondasi kuat yang akan menopang berdirinya bangunan tersebut. Dan selaku
penuntut ilmu, kita mesti mengetahui apa saja yang merupakan pondasi untuk
tegaknya banguanan keilmuan itu. Sehingga ilmu yang kita hasilkan nantinya, adalah
ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, terlebih saat dihadapan
mahkamah Allah Swt. Dan setidaknya, ada tiga pondasi yang diperlukan untuk
merancang bangunan keilmuan itu;
1.
Keaslian dan kebenaran
referensi.
Selaku umat Islam, kita termasuk umat yang
beruntung dibandingkan pemeluk agama lainnya. Karena di dalam Islam, kita
memiliki referensi yang terjaga keaslian
dan kebenarannya semenjak beabad-abad silam. Kita memiliki al-Quran, dan juga Sunnah
Nabi Saw. Dan dua hal ini, dijamin keterjagaannya hingga kiamat kelak. “Sesungguhnya
Kamilah yang menurunkannya (al-Quran), dan Kami pula yang akan menjaganya”, seperti
itulah firman Allah Swt memberitakan. Terjaganya al-Quran, juga menunjukkan keterjagaan
Sunnah Nabi Saw, karena Sunnah merupakan bagian tak terpisahkan dari al-Quran.
Mengingat bahwasanya Sunnah merupakan penjelas terhadap al-Quran, dan terkadang
juga melahirkan hukum yang tidak disinggung pembahasannya oleh al-Quran.
Dari sisi keilmiahannya, al-Quran dinukilkan
secara mutawatir. Artinya, penukilan teks alquran itu melibatkan orang banyak
dari masa ke masa. Sehingga terhindar
dari penyimpangan dan perubahan terhadap teksnya. Sedangkan Hadis/Sunnah Nabi Saw,
diriwayatkan melalui metode yang super ketat. Itulah yang kemudian kita kenal
dengan nama sanad. Yaitu silsilah perpindahan hadits dari satu orang
kepada orang lain, hingga dari sana bisa diketahui kebenaran sumber yang
pertama kali mengeluarkan hadis tersebut.
Sebuah metode luar biasa yang belum pernah dipakai oleh manusia pada
zaman itu, telah diterapkan oleh umat ini demi menjaga keabsahan Sunnah Nabi Saw.
Tidaklah salah jika kemudian Ibnu Mubarak
mengatakan, “Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad,
niscaya orang-orang akan berkata apapun yang mereka inginkan”. Begitulah al-Quran
dan Sunnah terjaga keaslian dan keabsahannya sebagai sumber utama dalam Islam.
Kemudian, kita juga mengenal Ijma’ dan
Qiyas sebagai referensi berikutnya. Ijma’ merupakan kesepakatan para
mujtahid di suatu masa mengenai hukum suatu permasalahan. Sedangkan Qiyas
merupakan cara untuk menghukumi sebuah kejadian yang tidak ada penjelasan dari nash
terhadapnya, dengan cara menghubungkannya pada kejadian lain yang telah ada
penjelasan nash mengenai hukumnya dan keduanya memiliki kesamaan dalam ‘illat.
Hingga akhirnya, empat referensi inilah
yang disepakati oleh ulama sebagai landasan bagi keilmuan dan juga agama.
Selain itu, ada juga sumber lainnya yang yang diperselisihkan ulama dalam
penggunaannya seperti mashlahah mursalah, istihsan, ‘urf,
istishab, syar’u man qoblana, dan qoulus shahabi.
2. Metode yang tepat dan
guru yang mendidik
Referensi yang terjaga keaslian dan
keabsahannya terkadang belum cukup untuk menjamin tegaknya bangunan keilmuan
yang kokoh. Dibutuhkan juga metode teruji yang akan menggiring jalannya seorang
penuntut ilmu untuk bisa sampai pada tujuannya. Dan metode yang dimaksudkan
disini adalah, metode tentang tahapan-tahapan dalam menuntut ilmu.
Untuk itulah perlu adanya seoarang guru/ulama.
Yang menuntun para penuntut ilmu untuk mengenali itu semua. Membimbing mereka
untuk menyelam ke dasar lautan, dan mengajari mereka untuk bisa membedakan mana
batu karang dan mana mutiara berharga. Melalui tangan merekalah risalah
keilmuan bisa tepat mengenai sasaran sesuai dengan keadaan zaman hari ini. Dan
dalam binaan merekalah sanad keilmuan itu terus berlanjut. Keberadaan mereka
memang sangat dibutuhkan, terlebih dalam membangun pondasi ilmu agama. Sehingga
kematian mereka diibaratkan dengan terangkatnya ilmu dari muka bumi ini. Kalaulah
bukan karena ulama-ulama yang menjaga tetap lurusnya pemahaman umat, lalu
mengapa Yahudi dan Nashrani tersesat padahal Taurat dan Injil ada bersama
mereka? Jawabannya bukan karena referensi yang keliru, tapi karena ulama yang
amanah dalam menyampaikan isi Taurat dan Injil tidak ada bersama mereka.
Sehingga akhirnya banyak ditemukan penyimpangan terhadap 2 kitab suci itu.
Dari sini, terlihat bahwasanya peran
guru/ulama tidak bisa dipisahkan dari agenda membangun pondasi keilmuan. Karena
melalui merekalah kita bisa memahami maksud kalam Allah dan juga kalam Nabinya
Saw. Fas aluu ahlaz zikri in kuntum la ta’lamuun, begitulah arahan ilahi
menjelaskan pada kita. Dan mereka inilah yang nantinya mengajarkan pada kita
apa saja langkah yang diperlukan dalam proses menuntut ilmu. Sehingga tatanan
keilmuan yang kita miliki sesuai dengan urutan yang semestinya.
3. Potensi sang penuntut ilmu
Inilah yang kemudian lebih sering
dikatakan orang sebagai bakat. Karena setiap orang lahir dalam lingkungan yang
berbeda dan dalam situasi yang tak sama, sehingga setiap orang memiliki bakat
bawaan yang berbeda pula. Kecenderungan mereka pun juga beraneka ragam. Semakin
besar kecenderungan seseorang dalam membangun pondasi keilmuan, akan semakin
besar pula peluangnya untuk menjalani dua rukun pondasi keilmuan lainnya.
Namun,
bakat bukanlah sesuatu yang tak bisa di raih. Sebagaimana ia bisa hilang jika
tidak diasah, ia juga bisa dimunculkan untuk kemudian diperbesar volumenya.
Sehingga tidak salah jika ada ungkapan yang mengatakan : ”Jika kamu belum
menemukan dimana bakatmu, maka tekunilah bidang yang kamu jalani sekarang,
niscaya kamu akan tampil layaknya orang yang berbakat”. Jadi, tidak ada alasan
untuk berkata tidak. Karena semuanya masih mungkin untuk dimulai dari sekarang.
Hanya saja, ketekunan dan kesungguhan luar biasa amat sangat dibutuhklan untuk
itu semua, terlebih jika kita adalah orang yang baru memulai masuk dalam arena tersebut.
Itulah 3 pondasi keilmuan yang kita
butuhkan. Luputnya salah satu pondasi tersebut bisa menyebabkan goyahnya
bangunan keilmuan yang kita miliki selama ini. Apalagi jika topik keilmuan yang
kita gali adalah ilmu-ilmu agama. Maka keberadaan 3 pondasi ini mesti
diupayakan terpenuhi semampu kita melakukannya.
Dan kelebihan kita di Al-Azhar adalah, bahwa
Azhar memiliki 2 pondasi pertama dari landasan keilmuan ini. Disini bisa kita
temukan kekayaan referensi yang melebihi
tempat lainnya. Dan disini jugalah banyak kita jumpai ulama umat yang amanah
dalam menyampaikan risalah ssagama ini. Hingga hampir semua cabang ilmu agama
yang ada disini memiliki sanad keilmuan yang bersambung terus sampai pada sumber/pencetus
dan penggagasnya yang pertama. Dan itu kebanyakan kita temui dalam duru-durus
bersama para masyaikh dan ulama. Andaikan 2 pondasi pertama telah
terpenuhi, maka pertanyaan yang tersisa kemudian adalah, siapkah kita memenuhi pondasi
yang ketiga?
No comments:
Post a Comment