Sunday, April 29, 2012

Menelisik Pondasi Keilmuan



Ibarat mendirikan sebuah gedung, seperti itu jugalah bangunan keilmuan dibentuk. Ia tidak hadir dengan sendirinya, tapi memerlukan aneka  proses dan tahapan. Maka, ketika bangunan yang akan dibuat adalah bangunan yang kokoh dan kuat, tentu diperlukan juga pondasi kuat yang akan menopang berdirinya bangunan tersebut. Dan selaku penuntut ilmu, kita mesti mengetahui apa saja yang merupakan pondasi untuk tegaknya banguanan keilmuan itu. Sehingga ilmu yang kita hasilkan nantinya, adalah ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, terlebih saat dihadapan mahkamah Allah Swt. Dan setidaknya, ada tiga pondasi yang diperlukan untuk merancang bangunan keilmuan itu;
1.    Keaslian dan kebenaran referensi.
Selaku umat Islam, kita termasuk umat yang beruntung dibandingkan pemeluk agama lainnya. Karena di dalam Islam, kita memiliki referensi  yang terjaga keaslian dan kebenarannya semenjak beabad-abad silam. Kita memiliki al-Quran, dan juga Sunnah Nabi Saw. Dan dua hal ini, dijamin keterjagaannya hingga kiamat kelak. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkannya (al-Quran), dan Kami pula yang akan menjaganya”, seperti itulah firman Allah Swt memberitakan.  Terjaganya al-Quran, juga menunjukkan keterjagaan Sunnah Nabi Saw, karena Sunnah merupakan bagian tak terpisahkan dari al-Quran. Mengingat bahwasanya Sunnah merupakan penjelas terhadap al-Quran, dan terkadang juga melahirkan hukum yang tidak disinggung pembahasannya oleh al-Quran.
Dari sisi keilmiahannya, al-Quran dinukilkan secara mutawatir. Artinya, penukilan teks alquran itu melibatkan orang banyak dari masa ke masa. Sehingga  terhindar dari penyimpangan dan perubahan terhadap teksnya. Sedangkan Hadis/Sunnah Nabi Saw, diriwayatkan melalui metode yang super ketat. Itulah yang kemudian kita kenal dengan nama sanad. Yaitu silsilah perpindahan hadits dari satu orang kepada orang lain, hingga dari sana bisa diketahui kebenaran sumber yang pertama kali mengeluarkan hadis tersebut.  Sebuah metode luar biasa yang belum pernah dipakai oleh manusia pada zaman itu, telah diterapkan oleh umat ini demi menjaga keabsahan Sunnah Nabi Saw. Tidaklah  salah jika kemudian Ibnu Mubarak mengatakan, “Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, niscaya orang-orang akan berkata apapun yang mereka inginkan”. Begitulah al-Quran dan Sunnah terjaga keaslian dan keabsahannya sebagai sumber utama dalam Islam.
Kemudian, kita juga mengenal Ijma’ dan Qiyas sebagai referensi berikutnya. Ijma’ merupakan kesepakatan para mujtahid di suatu masa mengenai hukum suatu permasalahan. Sedangkan Qiyas merupakan cara untuk menghukumi sebuah kejadian yang tidak ada penjelasan dari nash terhadapnya, dengan cara menghubungkannya pada kejadian lain yang telah ada penjelasan nash mengenai hukumnya dan keduanya memiliki kesamaan dalam  ‘illat.
Hingga akhirnya, empat referensi inilah yang disepakati oleh ulama sebagai landasan bagi keilmuan dan juga agama. Selain itu, ada juga sumber lainnya yang yang diperselisihkan ulama dalam penggunaannya seperti mashlahah mursalah, istihsan, ‘urf, istishab, syar’u man qoblana, dan qoulus shahabi.

2.       Metode yang tepat  dan guru yang mendidik
Referensi yang terjaga keaslian dan keabsahannya terkadang belum cukup untuk menjamin tegaknya bangunan keilmuan yang kokoh. Dibutuhkan juga metode teruji yang akan menggiring jalannya seorang penuntut ilmu untuk bisa sampai pada tujuannya. Dan metode yang dimaksudkan disini adalah, metode tentang tahapan-tahapan dalam menuntut ilmu.
Untuk itulah perlu adanya seoarang guru/ulama. Yang menuntun para penuntut ilmu untuk mengenali itu semua. Membimbing mereka untuk menyelam ke dasar lautan, dan mengajari mereka untuk bisa membedakan mana batu karang dan mana mutiara berharga. Melalui tangan merekalah risalah keilmuan bisa tepat mengenai sasaran sesuai dengan keadaan zaman hari ini. Dan dalam binaan merekalah sanad keilmuan itu terus berlanjut. Keberadaan mereka memang sangat dibutuhkan, terlebih dalam membangun pondasi ilmu agama. Sehingga kematian mereka diibaratkan dengan terangkatnya ilmu dari muka bumi ini. Kalaulah bukan karena ulama-ulama yang menjaga tetap lurusnya pemahaman umat, lalu mengapa Yahudi dan Nashrani tersesat padahal Taurat dan Injil ada bersama mereka? Jawabannya bukan karena referensi yang keliru, tapi karena ulama yang amanah dalam menyampaikan isi Taurat dan Injil tidak ada bersama mereka. Sehingga akhirnya banyak ditemukan penyimpangan terhadap 2 kitab suci itu.
Dari sini, terlihat bahwasanya peran guru/ulama tidak bisa dipisahkan dari agenda membangun pondasi keilmuan. Karena melalui merekalah kita bisa memahami maksud kalam Allah dan juga kalam Nabinya Saw. Fas aluu ahlaz zikri in kuntum la ta’lamuun, begitulah arahan ilahi menjelaskan pada kita. Dan mereka inilah yang nantinya mengajarkan pada kita apa saja langkah yang diperlukan dalam proses menuntut ilmu. Sehingga tatanan keilmuan yang kita miliki sesuai dengan urutan yang semestinya.

3.       Potensi sang penuntut ilmu
Inilah yang kemudian lebih sering dikatakan orang sebagai bakat. Karena setiap orang lahir dalam lingkungan yang berbeda dan dalam situasi yang tak sama, sehingga setiap orang memiliki bakat bawaan yang berbeda pula. Kecenderungan mereka pun juga beraneka ragam. Semakin besar kecenderungan seseorang dalam membangun pondasi keilmuan, akan semakin besar pula peluangnya untuk menjalani dua rukun pondasi keilmuan lainnya.
 Namun, bakat bukanlah sesuatu yang tak bisa di raih. Sebagaimana ia bisa hilang jika tidak diasah, ia juga bisa dimunculkan untuk kemudian diperbesar volumenya. Sehingga tidak salah jika ada ungkapan yang mengatakan : ”Jika kamu belum menemukan dimana bakatmu, maka tekunilah bidang yang kamu jalani sekarang, niscaya kamu akan tampil layaknya orang yang berbakat”. Jadi, tidak ada alasan untuk berkata tidak. Karena semuanya masih mungkin untuk dimulai dari sekarang. Hanya saja, ketekunan dan kesungguhan luar biasa amat sangat dibutuhklan untuk itu semua, terlebih jika kita adalah orang yang baru memulai masuk dalam arena tersebut.

Itulah 3 pondasi keilmuan yang kita butuhkan. Luputnya salah satu pondasi tersebut bisa menyebabkan goyahnya bangunan keilmuan yang kita miliki selama ini. Apalagi jika topik keilmuan yang kita gali adalah ilmu-ilmu agama. Maka keberadaan 3 pondasi ini mesti diupayakan terpenuhi semampu kita melakukannya.
 Dan kelebihan kita di Al-Azhar adalah, bahwa Azhar memiliki 2 pondasi pertama dari landasan keilmuan ini. Disini bisa kita temukan kekayaan referensi yang  melebihi tempat lainnya. Dan disini jugalah banyak kita jumpai ulama umat yang amanah dalam menyampaikan risalah ssagama ini. Hingga hampir semua cabang ilmu agama yang ada disini memiliki sanad keilmuan yang bersambung terus sampai pada sumber/pencetus dan penggagasnya yang pertama. Dan itu kebanyakan kita temui dalam duru-durus bersama para masyaikh dan ulama. Andaikan 2 pondasi pertama telah terpenuhi, maka pertanyaan yang tersisa kemudian adalah, siapkah kita memenuhi pondasi yang ketiga?

No comments:

Post a Comment