Sunday, April 29, 2012

Gila seperti apa yang akan kita pilllih?


Satu hal yang sama2 perlu kita sepakati setelah membaca judul tadi  adalah, bahwasanya tak seorang pun dari kita yang ingin menjadi orag gila atau tampil layaknya seorang yang memang betul2 gila.  Karena, kalau gila yang dimaksud adalah yang harus mengantarkan  pelakunya ke gaduik ( kalau di sumbar), atau ke USU (universitas samping unri_ RSJ maksudnya_di riau) atau entah apalah namanya di mesir ini, maka mungkin tak ada satupun orang  yag menginginkannya..
Lalu, gila model apakah yang dimaksudkan disini? Ini bukannya penyakit gila yang sering di lontarkan bang andrea dalam karya tetralogi laskar pelanginya. Bukan juga penyakit gila2 an yang  kemaren sempat menjamur setelah usainya ajang pilkada karena kalah dalam pemilihan. Gila yang satu ini sungguh betul2 beda, karena kegilaan yang satu ini bisa membawa pelakunya untuk   mendapatkan apa yang  dia inginkan dan cita2kan. Nah lho?
Gila yang dimaksudkan ini adalah gila yang dilihat dari sisi pandang yang lain, mungkin lebih tepatnya bisa dikatakan, "tergila-gila"(meskipun pakai imbuhan "ter", yang penting kan tetap ada tulisan "gila"nya *_*).  Nah tentu saja yang satu ini jauh berbeda dari istilah yang ada sebelumnya.
Terkadang dalam hidup, kita butuh yang namanya ke-tergila gila-an untuk membuat hidup kita sedikit lebih hidup. Bahkan terkadang, dengan kegilaan dalam jenis inilah apa yang dahulunya hanya berupa impian dan cita2 dalam lipatan kepala kita, kini malah berubah jadi nyata..
Ke tergila-gialaan itu sendiri banyak macamnya, namun kali ini, hanya ketergilaan tertentu saja yang akan diangkatkan, dan semoga ada manfaatnya. Sebagai contoh misalnya,  kita bisa lihat einstein yang begitu tergila2 dengan ilmu fisika, yang karena ketergilaannya membuatnya betul2 hampir terlihat gila. Lihat saja fhotonya yang sempat beredar atau rumus2 yang sudah dihasilkannya. kitapun  mungkin juga akan pusing kalo membacanya. Ada lagi samaldhas rancodhas chanchad one of  3 idiot yang begitu tergila2nya dengan mesin sehingga jadi penemu banyak karya. Meskipun hanyalah sebuah film, tapi yang penting, masih ada unsur  keter"gila"annya disana dalam bidang kemesinan . Kita juga bisa liat betapa gilanya sang manusia laba2( nggak tau juga siapa namanya, yang tau tlg dikasih tau ya..!) yang gak puas-puasnya mendaki gedung2 pencakar langit diberbagai negara belahan dunia tanpa alat bantu berupa tali dan semacamnya. Barangkali kali aja monas jadi pilihan bangunan yang bakal dipanjat berikutnya @_@, ntahlah. Di Indonesia, kita mungkin pernah mendengar kisah yang nggak cukup masyhur tentang obsesi ketergilaaan seorang anak manusia yang ingin mengelilingi indonesia dengan sepeda. Kabarnya, ekspedisinya itu sukses dengan gemilang. Ikal yang anggota laskar pelangipun pun yang dengan ketergilaannya untuk menembus sekat benua berhasil terbang ke prancis untuk bisa terdaftar bergabung memenuhi deretan nama mahasiswa altar kampus Sorbonne disana.
Belum lagi kalau kita bercerita seputar dunia islam. Akan banyak lagi kita temukan kisah unik dan menarik berisi "kecintaan yang mendalam'"( sengaja tidak pakai istilah ketergilaan, sebagai bentuk adab pada cendikiawan kita dalam agama ini ^_^) dalam meraih dan mencapai impian mereka. Kita mungkin pernah mendengar nama Imam syafi'i yang hidupnya penuh diliputi gelimang keilmuan, sang imam mazhab yang juga boleh dibilang bapak ushul fiqhnya dunia. Adalagi Imam An nawawi, sang pemilik karya fenomenal, yang kalau dibandingkan diabad ini, mungkin banyak dari karya2 beliau berhak digelari the bestnya best seller , mengalahkan karya ternama abad ini. Bayangkan, berabad2 berlalu, tapi karya beliau tetap eksis dalam deretan khazanah keislaman hari ini. Ibnu hajar sang pembayar hutang umat ini dengan keluarnya karya besar beliau berupa syarahan terhadap hadits shohihnya imam bukhari, imam ahli haditsnya umat ini. Ada juga ibnu batutoh sang adventure internasional yang telah menjelajah mengelilingi dunia. Juga ada ibnu rusyd, sang filosof ternama dunia islam. Ibnu sina yang namanya masuk dalam sederet orang berpengaruh dalam dunia kedokteran. Juga alkhawarizmi sang matematikawan, albiruni sang ahli astronomi, dan tentu masih banyk lagi lainnya  yang namanya kadang masih sangat asing ditelinga kita….
Mereka semua nya  bukan gila secara haqiqi, tapi mereka hanya memiliki kegilaan secara maknawi .  Kegilaan mereka terhadap sesuatu mengantarkan mereka meraih apa yang mereka cari dan impikan selama ini. Karena kegilaan mereka adalah gilanya seorang majnun yang mati2an untuk mendapatkan laila. Apapun akan diusahakannya untuk mendapatkan apa yang dia impikan (asalkan tak keluar dalam garis edar agama tentunya). Nah, siapapun kita, pasti kita punya hal yang yang memang membuat kita betah berlama2 didalamnya, tahan melakukan apa pun yang berkaitan dengannya, dan rela menunggu giliran untuk bisa melakukannya. Mungkin itu bisa saja di bidang olahraga atau yang lainnya,mendesign grafis, ngadob photoshop, nulis karya atau apapunlah namanya, menggambar, ngotak atik alat elektronik, bertualang (kayak backpackeran gitulah), latihan ngacker(jd hacker maksudnya), rihlah2an menelusuri tempat baru yang belum dikunjungi, atau mungkin aktif di organisasi, ngasah keoratoran dalam bicara, mulai menyibukkan diri dalam lautan dunia keilmuan, apakah ikut talaqqian atau daurohan, belajar dimarkaz atau dimanapunlah, mungkin juga terjun dalam kecamuknya dunia dakwah dan seabrek kegiatan tak bertema lainnya. Itu semua tergantung pada kecenderungan yang melekat dalam diri kita.
Dan satu hal lagi, bukan gila namanya kalau hal2 yang kita sebutkan tadi hanya berupa keinginan dan khayalan yang belum pernah kita kerjakan selama ini. Maka dari itu, di gila jenis manakah kita berada sekarang…..? Saat kita tau tentang hal yang kita tergila2 padanya, dan kita selalu punya cara untuk senantiasa mengasahnya,  boleh jadi disanalah kita temukan siapa diri kita ^_^,,, heheheh sok mantap keliatannya. Tapi kheirlah, semoga ada manfaatnya…..
Dan sekarang, selamat mengarungi samudra ketergilaan dengan pilihan kita masing2,,,, Peace…!
Mantan kamarQ                       
Juli25'10

Ada apa dengan uang?


                                                                
Uang bisa  membeli rumah, tapi bukan penginapan dan kenyamanan
Uang bisa membeli  buku, tapi bukan ilmu pengetahuan
Uang bisa membeli darah, tapi bukan kehidupan
Uang bisa membeli jam, tapi bukan waktu
Uang bisa membeli makanan, tapi bukan selera makan
Uang bisa membeli ansuransi, tapi bukan keselamatan
Uang bisa membeli kasur, tapi bukan tidur
 Yaa, karena uang bukanlah segala galanya… Andaikan kebahagian ada pada uang, sungguh zholimlah sang Pencipta. Tapi, kenyataannya tidaklah begitu. Rabb kita adalah zat yang begitu penyayang. Dia jadikan semua kita memeiliki sesuatu yang dengannya semua manusia bisa hidup bahagia. Allah ta'ala memang tidak memberikan semua kita uang, tapi Allah jadikan semua kita bisa tersenyum dan ketawa dengan bentuk dan aneka rupanya, dan itu semuanya sebagai salah satu indikasi yang menunjukkan raut bahagia pada diri manusia.
Rumah kita bisa saja luas adanya, ataupun banyak ada dimana mana, tapi belum tentu semuanya memberikan ketenangan ketika kita menghuninya. Buku kita mungkin jumlahnya tak terkira, tapi apa yang menyangkut dan tinggal dikepala siapa yang tahu ukurannya. Kitapun bisa mengumpulkan darah sebanyak banyaknya, tapi yang namanya hidup belum tentu akan kita dapatkan darinya. Kitapun bisa saja punya jam yang harganya berjuta juta, tapi yang namanya waktu tetap saja bukan kita yang punya. Ya, begitulah seterusnya.
Tahukah kamu mengapa begitu sobat? Karena Allah ta'ala tidak menjadikan kebahagian itu bersumber padanya. Allah azza wa jalla hanya jadikan ia sebagai pelengkap sarana hidup manusia. Keberadaannya hanya menjadi tambahan, bukannya malah tujuan. Itulah makanya, allah memang tidak memberikan emas dan perak pada semua manusia, tidak juga intan berlian, tapi allah berikan kepada mereka hati dan pikiran, yang dengannya lah kebahagiaan yang sebenarnya didapatkan. Baik itu kulitnya hitam ataupun putih, sama saja apakah tubuhnya tingggi ataupun rendah, pintarkah ia atau tidak, beruangkah dia atau tidak sama sekali, ya semuanya sangat mungkin untuk bisa hidup bahagia. Hati dan pikiran kita yang akan membantu kita menemukan arti kebahagiaan kita yang sesungguhnya. Karena hati adalh wadah yang akan menampung segala uneg2 hidup kita, dan pikiran yang akan memikirkan apa jalan keluarnya… Teingat dengan kisah orang bijak yagng menasehati muridnya, "berhentilah menjadi gelas". Jadikan hatimu luas bak danau yang tak kan pernah asin jikalau hanya ditaburi segenggam garam. Yang mana akan sangat berbeda manakala segenggam garam itu dimasukkan dalam wadah kecil yang bernama gelas. Danau dan gelas itu adalah pilihan hati kita, sementara itu, tumpukan masalah yang mendera adalah garam yang jumlahnya selalu sama. Karena itu jugalah kita tidak akan sulit menemukan orang yang bahagia ada dimana mana, meskipun tak memiliki persyaratan kematerian yang memadai dalam pandangan manusia. Itulah yang semestinya kita sadari.
Namun dibalik itu semua, saat kita tahu bahwa uang adalah pelengkap, ada hal lain juga yang meski kita sadari, yaitu keberadaannya sebagai pelengkap terkadang memiliki posisi yang penting dalam hidup. Apalagi disaat keberadaan yang lain, amat begitu tergantung dari keberadaannya. Disaat seperti ini,  berlakulah kaedah bahwa maa laa yatimmu waajib illa bihi fahuwa waajib. Maka dari itu, memilikinya bahkan dirasa perlu apalagi kondisi darurat sudah begitu amat membutuhkan. Kita bukannya sedang plin plan antara memutuskan akan menjadi orang yang tak peduli dengan uang atau tidak, bukan itu yang kita inginkan. Tapi yang perlu kita sadari adalah perlunya sikap realistis dalam menyikapi pesoalan yang satu ini. Realistis bahwa pada hari ini semua kehidupan berporos padanya. Sehingga akhirnya, kita temukan bahwa kita tidak berambisi menjadi beruang sebab beruang tidak memberikan segalanya, tapi kita mesti beruang karena ia menjadi salah satu sarana untuk melancarkan gerak langkah kita… Untuk yang satu ini, mungkin kita semua akan setuju dengan kata-katanya  Aa gym, "saya tidak ingin jadi kaya, tapi saya mesti kaya"  ^_^

Menelisik Pondasi Keilmuan



Ibarat mendirikan sebuah gedung, seperti itu jugalah bangunan keilmuan dibentuk. Ia tidak hadir dengan sendirinya, tapi memerlukan aneka  proses dan tahapan. Maka, ketika bangunan yang akan dibuat adalah bangunan yang kokoh dan kuat, tentu diperlukan juga pondasi kuat yang akan menopang berdirinya bangunan tersebut. Dan selaku penuntut ilmu, kita mesti mengetahui apa saja yang merupakan pondasi untuk tegaknya banguanan keilmuan itu. Sehingga ilmu yang kita hasilkan nantinya, adalah ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, terlebih saat dihadapan mahkamah Allah Swt. Dan setidaknya, ada tiga pondasi yang diperlukan untuk merancang bangunan keilmuan itu;
1.    Keaslian dan kebenaran referensi.
Selaku umat Islam, kita termasuk umat yang beruntung dibandingkan pemeluk agama lainnya. Karena di dalam Islam, kita memiliki referensi  yang terjaga keaslian dan kebenarannya semenjak beabad-abad silam. Kita memiliki al-Quran, dan juga Sunnah Nabi Saw. Dan dua hal ini, dijamin keterjagaannya hingga kiamat kelak. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkannya (al-Quran), dan Kami pula yang akan menjaganya”, seperti itulah firman Allah Swt memberitakan.  Terjaganya al-Quran, juga menunjukkan keterjagaan Sunnah Nabi Saw, karena Sunnah merupakan bagian tak terpisahkan dari al-Quran. Mengingat bahwasanya Sunnah merupakan penjelas terhadap al-Quran, dan terkadang juga melahirkan hukum yang tidak disinggung pembahasannya oleh al-Quran.
Dari sisi keilmiahannya, al-Quran dinukilkan secara mutawatir. Artinya, penukilan teks alquran itu melibatkan orang banyak dari masa ke masa. Sehingga  terhindar dari penyimpangan dan perubahan terhadap teksnya. Sedangkan Hadis/Sunnah Nabi Saw, diriwayatkan melalui metode yang super ketat. Itulah yang kemudian kita kenal dengan nama sanad. Yaitu silsilah perpindahan hadits dari satu orang kepada orang lain, hingga dari sana bisa diketahui kebenaran sumber yang pertama kali mengeluarkan hadis tersebut.  Sebuah metode luar biasa yang belum pernah dipakai oleh manusia pada zaman itu, telah diterapkan oleh umat ini demi menjaga keabsahan Sunnah Nabi Saw. Tidaklah  salah jika kemudian Ibnu Mubarak mengatakan, “Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, niscaya orang-orang akan berkata apapun yang mereka inginkan”. Begitulah al-Quran dan Sunnah terjaga keaslian dan keabsahannya sebagai sumber utama dalam Islam.
Kemudian, kita juga mengenal Ijma’ dan Qiyas sebagai referensi berikutnya. Ijma’ merupakan kesepakatan para mujtahid di suatu masa mengenai hukum suatu permasalahan. Sedangkan Qiyas merupakan cara untuk menghukumi sebuah kejadian yang tidak ada penjelasan dari nash terhadapnya, dengan cara menghubungkannya pada kejadian lain yang telah ada penjelasan nash mengenai hukumnya dan keduanya memiliki kesamaan dalam  ‘illat.
Hingga akhirnya, empat referensi inilah yang disepakati oleh ulama sebagai landasan bagi keilmuan dan juga agama. Selain itu, ada juga sumber lainnya yang yang diperselisihkan ulama dalam penggunaannya seperti mashlahah mursalah, istihsan, ‘urf, istishab, syar’u man qoblana, dan qoulus shahabi.

2.       Metode yang tepat  dan guru yang mendidik
Referensi yang terjaga keaslian dan keabsahannya terkadang belum cukup untuk menjamin tegaknya bangunan keilmuan yang kokoh. Dibutuhkan juga metode teruji yang akan menggiring jalannya seorang penuntut ilmu untuk bisa sampai pada tujuannya. Dan metode yang dimaksudkan disini adalah, metode tentang tahapan-tahapan dalam menuntut ilmu.
Untuk itulah perlu adanya seoarang guru/ulama. Yang menuntun para penuntut ilmu untuk mengenali itu semua. Membimbing mereka untuk menyelam ke dasar lautan, dan mengajari mereka untuk bisa membedakan mana batu karang dan mana mutiara berharga. Melalui tangan merekalah risalah keilmuan bisa tepat mengenai sasaran sesuai dengan keadaan zaman hari ini. Dan dalam binaan merekalah sanad keilmuan itu terus berlanjut. Keberadaan mereka memang sangat dibutuhkan, terlebih dalam membangun pondasi ilmu agama. Sehingga kematian mereka diibaratkan dengan terangkatnya ilmu dari muka bumi ini. Kalaulah bukan karena ulama-ulama yang menjaga tetap lurusnya pemahaman umat, lalu mengapa Yahudi dan Nashrani tersesat padahal Taurat dan Injil ada bersama mereka? Jawabannya bukan karena referensi yang keliru, tapi karena ulama yang amanah dalam menyampaikan isi Taurat dan Injil tidak ada bersama mereka. Sehingga akhirnya banyak ditemukan penyimpangan terhadap 2 kitab suci itu.
Dari sini, terlihat bahwasanya peran guru/ulama tidak bisa dipisahkan dari agenda membangun pondasi keilmuan. Karena melalui merekalah kita bisa memahami maksud kalam Allah dan juga kalam Nabinya Saw. Fas aluu ahlaz zikri in kuntum la ta’lamuun, begitulah arahan ilahi menjelaskan pada kita. Dan mereka inilah yang nantinya mengajarkan pada kita apa saja langkah yang diperlukan dalam proses menuntut ilmu. Sehingga tatanan keilmuan yang kita miliki sesuai dengan urutan yang semestinya.

3.       Potensi sang penuntut ilmu
Inilah yang kemudian lebih sering dikatakan orang sebagai bakat. Karena setiap orang lahir dalam lingkungan yang berbeda dan dalam situasi yang tak sama, sehingga setiap orang memiliki bakat bawaan yang berbeda pula. Kecenderungan mereka pun juga beraneka ragam. Semakin besar kecenderungan seseorang dalam membangun pondasi keilmuan, akan semakin besar pula peluangnya untuk menjalani dua rukun pondasi keilmuan lainnya.
 Namun, bakat bukanlah sesuatu yang tak bisa di raih. Sebagaimana ia bisa hilang jika tidak diasah, ia juga bisa dimunculkan untuk kemudian diperbesar volumenya. Sehingga tidak salah jika ada ungkapan yang mengatakan : ”Jika kamu belum menemukan dimana bakatmu, maka tekunilah bidang yang kamu jalani sekarang, niscaya kamu akan tampil layaknya orang yang berbakat”. Jadi, tidak ada alasan untuk berkata tidak. Karena semuanya masih mungkin untuk dimulai dari sekarang. Hanya saja, ketekunan dan kesungguhan luar biasa amat sangat dibutuhklan untuk itu semua, terlebih jika kita adalah orang yang baru memulai masuk dalam arena tersebut.

Itulah 3 pondasi keilmuan yang kita butuhkan. Luputnya salah satu pondasi tersebut bisa menyebabkan goyahnya bangunan keilmuan yang kita miliki selama ini. Apalagi jika topik keilmuan yang kita gali adalah ilmu-ilmu agama. Maka keberadaan 3 pondasi ini mesti diupayakan terpenuhi semampu kita melakukannya.
 Dan kelebihan kita di Al-Azhar adalah, bahwa Azhar memiliki 2 pondasi pertama dari landasan keilmuan ini. Disini bisa kita temukan kekayaan referensi yang  melebihi tempat lainnya. Dan disini jugalah banyak kita jumpai ulama umat yang amanah dalam menyampaikan risalah ssagama ini. Hingga hampir semua cabang ilmu agama yang ada disini memiliki sanad keilmuan yang bersambung terus sampai pada sumber/pencetus dan penggagasnya yang pertama. Dan itu kebanyakan kita temui dalam duru-durus bersama para masyaikh dan ulama. Andaikan 2 pondasi pertama telah terpenuhi, maka pertanyaan yang tersisa kemudian adalah, siapkah kita memenuhi pondasi yang ketiga?