Sunday, April 29, 2012

Ada apa dengan uang?


                                                                
Uang bisa  membeli rumah, tapi bukan penginapan dan kenyamanan
Uang bisa membeli  buku, tapi bukan ilmu pengetahuan
Uang bisa membeli darah, tapi bukan kehidupan
Uang bisa membeli jam, tapi bukan waktu
Uang bisa membeli makanan, tapi bukan selera makan
Uang bisa membeli ansuransi, tapi bukan keselamatan
Uang bisa membeli kasur, tapi bukan tidur
 Yaa, karena uang bukanlah segala galanya… Andaikan kebahagian ada pada uang, sungguh zholimlah sang Pencipta. Tapi, kenyataannya tidaklah begitu. Rabb kita adalah zat yang begitu penyayang. Dia jadikan semua kita memeiliki sesuatu yang dengannya semua manusia bisa hidup bahagia. Allah ta'ala memang tidak memberikan semua kita uang, tapi Allah jadikan semua kita bisa tersenyum dan ketawa dengan bentuk dan aneka rupanya, dan itu semuanya sebagai salah satu indikasi yang menunjukkan raut bahagia pada diri manusia.
Rumah kita bisa saja luas adanya, ataupun banyak ada dimana mana, tapi belum tentu semuanya memberikan ketenangan ketika kita menghuninya. Buku kita mungkin jumlahnya tak terkira, tapi apa yang menyangkut dan tinggal dikepala siapa yang tahu ukurannya. Kitapun bisa mengumpulkan darah sebanyak banyaknya, tapi yang namanya hidup belum tentu akan kita dapatkan darinya. Kitapun bisa saja punya jam yang harganya berjuta juta, tapi yang namanya waktu tetap saja bukan kita yang punya. Ya, begitulah seterusnya.
Tahukah kamu mengapa begitu sobat? Karena Allah ta'ala tidak menjadikan kebahagian itu bersumber padanya. Allah azza wa jalla hanya jadikan ia sebagai pelengkap sarana hidup manusia. Keberadaannya hanya menjadi tambahan, bukannya malah tujuan. Itulah makanya, allah memang tidak memberikan emas dan perak pada semua manusia, tidak juga intan berlian, tapi allah berikan kepada mereka hati dan pikiran, yang dengannya lah kebahagiaan yang sebenarnya didapatkan. Baik itu kulitnya hitam ataupun putih, sama saja apakah tubuhnya tingggi ataupun rendah, pintarkah ia atau tidak, beruangkah dia atau tidak sama sekali, ya semuanya sangat mungkin untuk bisa hidup bahagia. Hati dan pikiran kita yang akan membantu kita menemukan arti kebahagiaan kita yang sesungguhnya. Karena hati adalh wadah yang akan menampung segala uneg2 hidup kita, dan pikiran yang akan memikirkan apa jalan keluarnya… Teingat dengan kisah orang bijak yagng menasehati muridnya, "berhentilah menjadi gelas". Jadikan hatimu luas bak danau yang tak kan pernah asin jikalau hanya ditaburi segenggam garam. Yang mana akan sangat berbeda manakala segenggam garam itu dimasukkan dalam wadah kecil yang bernama gelas. Danau dan gelas itu adalah pilihan hati kita, sementara itu, tumpukan masalah yang mendera adalah garam yang jumlahnya selalu sama. Karena itu jugalah kita tidak akan sulit menemukan orang yang bahagia ada dimana mana, meskipun tak memiliki persyaratan kematerian yang memadai dalam pandangan manusia. Itulah yang semestinya kita sadari.
Namun dibalik itu semua, saat kita tahu bahwa uang adalah pelengkap, ada hal lain juga yang meski kita sadari, yaitu keberadaannya sebagai pelengkap terkadang memiliki posisi yang penting dalam hidup. Apalagi disaat keberadaan yang lain, amat begitu tergantung dari keberadaannya. Disaat seperti ini,  berlakulah kaedah bahwa maa laa yatimmu waajib illa bihi fahuwa waajib. Maka dari itu, memilikinya bahkan dirasa perlu apalagi kondisi darurat sudah begitu amat membutuhkan. Kita bukannya sedang plin plan antara memutuskan akan menjadi orang yang tak peduli dengan uang atau tidak, bukan itu yang kita inginkan. Tapi yang perlu kita sadari adalah perlunya sikap realistis dalam menyikapi pesoalan yang satu ini. Realistis bahwa pada hari ini semua kehidupan berporos padanya. Sehingga akhirnya, kita temukan bahwa kita tidak berambisi menjadi beruang sebab beruang tidak memberikan segalanya, tapi kita mesti beruang karena ia menjadi salah satu sarana untuk melancarkan gerak langkah kita… Untuk yang satu ini, mungkin kita semua akan setuju dengan kata-katanya  Aa gym, "saya tidak ingin jadi kaya, tapi saya mesti kaya"  ^_^

No comments:

Post a Comment