Uang bisa membeli rumah, tapi
bukan penginapan dan kenyamanan
Uang bisa membeli buku, tapi bukan ilmu pengetahuan
Uang bisa membeli darah, tapi
bukan kehidupan
Uang bisa membeli jam, tapi bukan
waktu
Uang bisa membeli makanan, tapi
bukan selera makan
Uang bisa membeli ansuransi, tapi
bukan keselamatan
Uang bisa membeli kasur, tapi
bukan tidur
Yaa, karena uang bukanlah segala galanya…
Andaikan kebahagian ada pada uang, sungguh zholimlah sang Pencipta. Tapi,
kenyataannya tidaklah begitu. Rabb kita adalah zat yang begitu penyayang. Dia
jadikan semua kita memeiliki sesuatu yang dengannya semua manusia bisa hidup
bahagia. Allah ta'ala memang tidak memberikan semua kita uang, tapi Allah
jadikan semua kita bisa tersenyum dan ketawa dengan bentuk dan aneka rupanya,
dan itu semuanya sebagai salah satu indikasi yang menunjukkan raut bahagia pada
diri manusia.
Rumah kita bisa saja luas adanya,
ataupun banyak ada dimana mana, tapi belum tentu semuanya memberikan ketenangan
ketika kita menghuninya. Buku kita mungkin jumlahnya tak terkira, tapi apa yang
menyangkut dan tinggal dikepala siapa yang tahu ukurannya. Kitapun bisa
mengumpulkan darah sebanyak banyaknya, tapi yang namanya hidup belum tentu akan
kita dapatkan darinya. Kitapun bisa saja punya jam yang harganya berjuta juta,
tapi yang namanya waktu tetap saja bukan kita yang punya. Ya, begitulah
seterusnya.
Tahukah kamu mengapa begitu sobat?
Karena Allah ta'ala tidak menjadikan kebahagian itu bersumber padanya. Allah
azza wa jalla hanya jadikan ia sebagai pelengkap sarana hidup manusia.
Keberadaannya hanya menjadi tambahan, bukannya malah tujuan. Itulah makanya,
allah memang tidak memberikan emas dan perak pada semua manusia, tidak juga
intan berlian, tapi allah berikan kepada mereka hati dan pikiran, yang
dengannya lah kebahagiaan yang sebenarnya didapatkan. Baik itu kulitnya hitam
ataupun putih, sama saja apakah tubuhnya tingggi ataupun rendah, pintarkah ia
atau tidak, beruangkah dia atau tidak sama sekali, ya semuanya sangat mungkin
untuk bisa hidup bahagia. Hati dan pikiran kita yang akan membantu kita
menemukan arti kebahagiaan kita yang sesungguhnya. Karena hati adalh wadah yang
akan menampung segala uneg2 hidup kita, dan pikiran yang akan memikirkan apa
jalan keluarnya… Teingat dengan kisah orang bijak yagng menasehati muridnya,
"berhentilah menjadi gelas". Jadikan hatimu luas bak danau yang tak
kan pernah asin jikalau hanya ditaburi segenggam garam. Yang mana akan sangat
berbeda manakala segenggam garam itu dimasukkan dalam wadah kecil yang bernama
gelas. Danau dan gelas itu adalah pilihan hati kita, sementara itu, tumpukan
masalah yang mendera adalah garam yang jumlahnya selalu sama. Karena itu jugalah
kita tidak akan sulit menemukan orang yang bahagia ada dimana mana, meskipun
tak memiliki persyaratan kematerian yang memadai dalam pandangan manusia. Itulah
yang semestinya kita sadari.
Namun dibalik itu semua, saat kita
tahu bahwa uang adalah pelengkap, ada hal lain juga yang meski kita sadari,
yaitu keberadaannya sebagai pelengkap terkadang memiliki posisi yang penting
dalam hidup. Apalagi disaat keberadaan yang lain, amat begitu tergantung dari
keberadaannya. Disaat seperti ini,
berlakulah kaedah bahwa maa laa yatimmu waajib illa bihi fahuwa
waajib. Maka dari itu, memilikinya bahkan dirasa perlu apalagi kondisi
darurat sudah begitu amat membutuhkan. Kita bukannya sedang plin plan antara
memutuskan akan menjadi orang yang tak peduli dengan uang atau tidak, bukan itu
yang kita inginkan. Tapi yang perlu kita sadari adalah perlunya sikap realistis
dalam menyikapi pesoalan yang satu ini. Realistis bahwa pada hari ini semua
kehidupan berporos padanya. Sehingga akhirnya, kita temukan bahwa kita tidak berambisi
menjadi beruang sebab beruang tidak memberikan segalanya, tapi kita mesti
beruang karena ia menjadi salah satu sarana untuk melancarkan gerak langkah kita…
Untuk yang satu ini, mungkin kita semua akan setuju dengan kata-katanya Aa gym, "saya tidak ingin jadi kaya, tapi
saya mesti kaya" ^_^
No comments:
Post a Comment